Guru, Siswa dan Hukuman



Siswa A    : " Kalo telat pasti dihukum ibu "
Siswa B    : " Hukumannya apa?"
Siswa A    : " Suruh piket sepulang sekolah"
Siswa C    : " Kalo wali kelas aku beda lagi suka hapalan kosakata bahasa Inggris"
Siswa D    : " Aku lebih parah, harus hapalan surat panjang"


Bijak Ketika Menghukum Siswa

Ungkapan itu menjadi pembahasan anak-anak di tempat bimbel sepulang sekolah selingan mengerjakan soal. Percakapan itu terasa baru kemarin terdengar sebelum beberapa hari lalu adanya
berita viral seorang guru menghukum siswa. Sebuah hukman bukan lagi piket ataupun hapalan surat pendek dan kosakata bahasa Inggris. Tapi hukuman yang tidak pantas diberikan oleh guru
sebagai pendidik. Siswa sekolah dasar dihukum dengan disuruh menjilati WC sekolah. Bisa dibayanagkan jika hukuman itu dialami oleh anak-anak kita?
Ketika mulutnya kotor kena makanan saja ibu segera menyuruhnya membersihkan.
Ketika makanan yang akan dimakan terlihat kotor orang tua lebih baik membuangnya tak rela diberikan pada buah hati. Tak terbayang jika mulut mungilnya dihukum menjilati WC sekolah, Kuman , virus dan bakteri mungkin berkeliaran bebas.
Guru bukan seorang yang berkuasa di kelas, tapi pendidik yang tidak hanya mentransfer ilmu pada muri-murid namun mengajarkan mereka bagaimana membentuk akhlak yang baik.  Maka guru harus bijak menghukum siswa ketika hukuman itu harus dilakukan. Pikirkan dampak dari hukuman yang diberikan, bukan membuat siswa jera dan takut takut hukuman tersebut memberikan dampak positif bagi siswa.

Guru adalah role model bagi mereka, kadang sebagian anak lebih patuh pada perkataan guru dibanding dengan orang tua. Maka inilah kesempatan bagi guru memberikan motivasi positif, contoh terbaik dan menanamkan keimanan dan aqidah sebagai pondasi. Apalagi bagi guru Sekolah Dasar, dimana anak-anak yang mereka didik adalah peniru paling ulung.Artinya mereka akan menirukan apa yang dilakukan guru. 
Apa yang terjadi jika hukuman yang diberikan guru tidak mendidik?
Salah satunya yang sedang viral saat ini dimana siswa dihukum dengan menjilati WC. Maka secara tidak langsung guru tersebut mengajarkan hukuman yang tidak manusiawi sehingga mungkin saja dicontoh bagi siswa yang melihatnya. Bijak ketika menghukum siswa adalah hal yang terlihat sepele namun akan berdampak pada siswa.
Pemberian punishment dan reward adalah hal yang harus dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Namun, berikan reward ketika anak melakukan hal yang positif sebagai apresiasi.  Berikan hukuman sebagai konsekuensi agar siswa lebih disipilin. Inilah hal bijak ketika menghukum siswa yang harus dilakukan guru

Berikan hukuman yang mendidik

Guru sudah pasti lebih tahu karakter siswa di kelas. Jika ada suatu pelanggaran yang dilakukan siswa maka konsekuensi atau hukuman yang diberikan sebaiknya mendidik siswa. Misalkan siswa disuruh membaca AL-Quran 2-3 lembar, menghapal surat ataupun kosakata atau piket kelas sesuai dengan usia dan kemampuannya. Lihat karakter mereka dan hukuman yang diberikan adalah jembatan untuk mengembangkan potensi yang tertutui karena berbagai hal. Misal siswa tersebut memiliki vokal yang bagus namun rasa malu dan tidak percaya diri membuat kelebihannya tertutup. Maka tidak ada salahnya guru menghukumnya dengan suruh menyanyi di depan kelas. Siswa yang memiliki imajinasi dan kreatif dalam menuangkan ide namun kreativitasnya terhenti karena malas menuangkannya dalam tulisan, mungkin cara meghukumnya adalah menyuruhnya untuk menuangkan ide, imajinasi dan kretivitasnya lewat tulisan.

Hindari hukuman fisik

Anak-anak sekolah zaman digital berbeda dengan zama kita dulu. Pukulan dan jeweran dari guru karena tidak hapal perkalian mungkin hal yang biasa. Berbeda dengan saat ini, anak-anak
apalagi mereka yang masih duduk di sekolah dasar sulit diarahkan jika menggunakan kekerasan. Mereka akan cenderung lebih memahami jika dilakukan pendekatan. Menyentuh hatinya, memahami
karakternya. Selain itu hukuman fisik akan berdampak buruk pada pribadi anak itu sendiri. Mungkin saja dia akan melakukan hal yang sama pada temannya untuk melampiaskan kekecewaan dan rasa
dendam atau sakit hati atas hukuman fisik yang diberikan guru, Bahkan anak memiliki trauma masa kecil yang sulit dilupakan ketika mereka dewasa

Hindari hukuman materi

Sebaikny tidak ada hukuman materi, dalam hal ini anak dihukum dengan membayar denda. Karena secara tidak langsung kita mengajarkan pada mereka bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan uang. Bahkan bagi anak-anak yang dibekali uang jajan lebih hukuman ini adalah hal sepele karena bisa dibayar dengan sedikit uang jajannya.

Bagi anak-anak kata hukuman itu sesuatu yang menakutkan dari film kartun yang mereka tonton. Apalagi jika hukuma yang mereka terima tidak mendidik ataupun hukuman fisik maka sekolah
bukan lagi tempat yang nyaman untuk belajar. Guru bukan lagi pendidik yang penyayang tapi penghukum yang setiap saat bisa menghukumnya jika ada suatu hal yang dilanggar. Tumbuhkan hal positif dalam diri anak begitu pula ketika memberikan mereka sebuah hukuman. Maka saatnya menjadi guru bijak ketika menghukum siswa. Jangan sampai energi dan kreativitas mereka habis karena sebuah hukuman konyol yang tidak memberikan dampak positif dalam diri siswa

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Guru, Siswa dan Hukuman"

Posting Komentar

Mohon untuk bijak dalam berkomentar