Mengajarkan Anak Belajar Memaknai Perayaan Tahun Baru

                Tahun baru tinggal menghitung hari. Hampir setiap tahun baru semarak dengan kembang api, suara dentuman, makanan,  ataupun kumpul bareng menghabiskan malam pergantian tahun baru di suatu  tempat. Bagi keluarga kecil kami nothing special di tahun baru bahkan kami tidak pernah pergi keluar untuk melihat semarak tahun baru. Mereka tidur dan bangun seperti yang telah dijadwalkan. Tidak ada acara kumpul terjaga hingga larut menuggu jam tepat di angka 12. 




                                                            Sumber : logisticsviewpoints.com

               Anak memiliki memori yang kuat terhadap pengalaman dan peristiwa yang mereka alami. Begitu pula dengan memaknai perayaan tahun baru setiap tahunnya. Bisa saja perayaan tahun baru yang dilakukan orang tua menjadi budaya kelak mereka dewasa nanti. Tugas orang tua adalah memberikan kenangan positif yang mengandung banyak pelajaran ketika perayaan tahun baru. 

Tidak membiasakan membeli terompet 

Hampir di sepanjang jalan raya para pedagang terompet ramai. dengan suara dan warna-warni dan model yang lucu kadang membuat si kecil merengek ingin membelinya.  Kami pribadi tidak terlalu suka ketika anak-anak membeli terompet. Terompet-terompet tersebut dipajang mungkin beberapa pembeli mencoba meniupnya bahkan si pembuat menjadi peniup pertama untuk memastikan terompetnya berbunyi atau tidak. Akhirnya tidak hanya satu dua orang yang meniup terompet sebelum kita beli. Bisa dibayangkan dari mulut ke mulut mungkin salah satu darinya  sedang sakit bahkan bisa jadi perokok aktif. Sehingga secara tidak langsung kita berbagi bakteri atau kuman. Cobalah terangkan kepada anak-anak tentang hal tersebut tentunya dengan bahasa mereka. 

Stop! tidak ada nyala kembang api atau suara dentuman

Tidak hanya terompet, di sepangjang jalan banyak sekali pedagang kembang api bahkan petasan. Kami lebih memilih membelikan anak-anak cemilan daripada harus membeli kembang api atau petasan dengan alasan anak-anak hanya memperoleh kepuasan ketika kembang api menyala dan suata petasan berdentum. Berapa uang yang dihabiskan hanya untuk menikmati itu semua. Selain itu tidak sedikit anak-anak menjadi korban kembang api dan petasan ketika mereka bermain diluar pengawasan orang tua. Berikan pemahaman kepada mereka bahwa hal yang mubazir tidak akan memberikan manfaat bagi  diri kita. Lebih baik mereka membeli makanan, buku atau menanbung dibandingkan membeli kembang api atau petasan yang hanya memiliki sensasi sekejap bahkan dapat membahayakan. 

Kumpul kelurga sebagai sarana silaturahmi bukan merayakan pergantian tahun baru hingga larut malam

Tahun baru berkumpul dengan keluarga, teman atau sahabat bisa kita ajarkan kepada anak bahwa kumpulan kami bukan untuk merayakan pergantian tahun baru hingga larut malam. Namun ini sebagai ajang silaturahmi. Maka perlihatkan pada anak dalam kumpulan tersebut ada nilai-nilai positif seperti di awali dengan pengajian, muhasah bersama atau diskusi hal positif. Bisa dibayangkan jika kumpulan tersebut hanya sebatas mengobrol dengan alunan musik dan beragam nyanyian sambil menunggu pergantian malam, it just waste time. Apalagi ketika waktu shalat subuh terlewat karena bangun kesiangan. Awal tahun baru sudah tidak diawali dengan hal yang kurang produktif  salah satunya bangun kesiangan karena berdagang semalam. 

Ajak anak untuk belajar mencatat resolusi positif di awal tahun

Komunikasikan dengan anak bahwa ini adalah tahun baru ditutupnya tahun sebelumnya. Ajak mereka untuk menuliskan harapan dan rencana di tahun baru ini, berikan waktu untuk melakukan proses tersebut. Selain itu orang tua bisa menjelaskan reward atau punishment jika mereka bisa atau tidak melakukannya sesuai usia mereka.

    Bagi anak-anak kebiasaan yang dilakukan orang tua akan memberikan kenangan tersendiri dalam memori mereka. Termasuk perayaan tahun baru yang biasanya dilakukan dalam sebuah keluarga.
Meniup terompet, menyalakan kembang api atau berkumpul hingga larut menunggu pergantian tahun kami rasa merupakan perayaan tahun baru yang kurang produktif namun kadang menjadi budaya. Berikan kenangan positif bagi anak-anak untuk memaknai perayaan tahun baru hingga kelak mereka dewasa tidak melakukan hal mubazir hanya untuk sebuah trend atau sensasi. Apalagi tahun ini bangsa kita sedang berduka. Kemana hati nurani kita ketika saudara-saudara kita sedang berduka terjaga karena ketakutan bencana itu datang. Kita terjaga dengan dentuman petasan, suara musik dan pesta.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengajarkan Anak Belajar Memaknai Perayaan Tahun Baru "

Posting Komentar

Mohon untuk bijak dalam berkomentar